Desa ayahku ini hanya desa kecil, namanya Sutojayan sekitaran daerah Lodoyo kabupaten Blitar. sekilas dulu pertama datang tak ada yang begitu menarik selain sungai besar yang mengalir lamban saat diperjalanan menuju ke desa ini. Desa ini bukan hanya tentang sungai besar yang belum aku kenali itu, ada bukit persis di belakang rumah, hamparan sawah hijau yang tentunya jarang aku lihat di Surabaya tempatku tinggal sekarang.
Desa ini begitu damai, terasa sekali. Aku bisa mendengar suara air mengalir yang renyah, atau pun suara deburan air yang jatuh di batas bendungan sungai. Aku juga bisa mendengar suara angin yang lincah, atau pun suara gesek daun dengan angin yang riang. Belum lagi suara lain yang saling berharmoni membuat kesan yang begitu apik.
Orang-orang disini pun ramah-ramah, pernah ketika aku memotret dipinggiran sawah dan sungainya, ada seseorang yang sedang memotong rumput dipinggiran sawah. Naluri untuk memotret lebih dekat lagi membuat kakiku melangkah lebih dekat lagi, dan setelah aku potret mereka tersenyum malu dan bilang "awas mas kameranya rusak nanti kalau foto saya". Manis untuk diingat.
Ini salah satu penggalan ceritaku saat menjelajah di desa ini. Waktu itu aku keluar rumah dengan motor kesayangan (si vega), niatnya mau isi bensin aja. Tapi untuk menjaga kemungkinan terburuk nanti ketika diperjalanan, aku memutuskan untuk membawa kamera kesayangan. Kehilangan momen berharga adalah hal yang sangat buruk. Aku berangkat setelah shalat dzuhur, jadi tak mau santai-santai dijalan. Aku ngebut dan tak seberapa lama aku langsung sampai di tempat pengisian bensin terus setelah isi bensin aku pulang. finish.
hehehee,,, wait a moment. Sebelum nyampe rumah aku melihat sungai yang beeeegitu panjang, nggak keliatan ujungnya dimana, cuman titik lenyap yang juga tak begitu jelas karna terangnya sinar matahari siang itu. Aku tertarik dan langsung memutuskan untuk berhenti dan sejenak kemudian menyusuri jalan setapak diantara sawah dan sungai itu dengan si Vega. hei Vega, hati-hati. Ini bukan jalan setapak yang biasa, ini adalah jalan setapak yang tidak biasa (-_-). Ada jalur khusus, jalur yang hanya bisa dilalui oleh sepeda motor atau sepeda ontel. Jalurnya cuman muat untuk satu ban saja, jadi seperti selang dengan ukuran ban sepeda motor tapi lebih besar sedikit. ada lekukan seperti itu. (bingung?), sama. Bagi yang ngerasa handal pake sepeda motor mesti coba jalur ini.
ohh ooo,,, setelah cukup lama mengarungi samudra lepas (weenaakk), maksudnya sungai ini, dengan begitu banyak pengalaman dan sensasi baru yang aku rasakan. Ada spot menarik untuk beristirahat sejenak dan menikmati aliran air sungai. Yup, ada jembatan sederhana yang menghubungkan kedua sisi sungai. jembatan itu hanya dibuat dari kayu diikat dengan tali, beberapa pakai pasak. Sshaapp,, parkir motor dekat sungai, jalan ketengah jembatan, duduk, enjoy. Terik matahari siang itu nggak terasa karena lembutnya angin mengalir dikulit tubuhku dan sejuknya air mengalir dikakiku. Dan semuaya masalah berangsur pergi bersama sungai yang terus mengalir.
ada beberapa foto yang mau aku kasi liat kalian.
| bersama daun itu kuhanyutkan beban pikiranku |
| inilah kaki sang penjelajah |
| capung sungai, cantik. |
0 komentar:
Posting Komentar